Senin, 13 Oktober 2014

Lalat Tsetse

MAKALAH PENGENDALIAN VEKTOR
DAN BINATANG PENGGANGGU
LALAT TSETSE




DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
REGULER 1 SEMESTER 3
1.      AINUR ROHMAH
2.      AMIR MAULANA
3.      ELSE NINA MARTINI
4.      IKKE ASMAWATI
5.      TUTUT WULANDARI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
TANJUNG KARANG
PRODI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
DAFTAR PUSTAKA



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas penulisan  Makalah “Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu ( Lalat Tsetse )” yang alhamdulillah selesai tepat pada waktunya dengan semaksimal mungkin.
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Kami mengucapakn banyak terima kasih kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita, Amin.

Bandar Lampung, September 2014
Tim Penyusun

Kelompok 3



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................   i
KATA PENGANTAR.............................................................................  ii
DAFTAR ISI............................................................................................  iii

BAB I PENDAHULUAN  .......................................................................  1
A.    Latar Belakang ................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................... 2
C.     Tujuan Masalah.................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA  ...........................................................   3
1.      Definisi lalat tsetse.............................................................  3
2.      Taksonomi .........................................................................  4
3.      Morfologi ........................................................................... 5
4.      Daur Hidup .......................................................................  6
5.      Patologi dan Gejala klinis .................................................. 7
6.      Diagnosa ............................................................................ 8
7.      Pencegahan ........................................................................ 9

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ................................................................................... 11
 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tsetse adalah lalat berukuran cukup besar dan berasal dari Afrika yang hidup dengan cara mengisap darah dari binatang bertulang belakang (vertebrata). Tsetse meliputi seluruh lalat dari genus Glossina dari famili Glossinidae. Tsetse telah lama diteliti oleh ilmuwan karena mereka merupakan parantara biologis dari trypanosomi Afrika yang mengakibatkan penyakit yang mematikan termasuk sleeping sickness pada manusia dan nagana pada ternak.
Tsetse berpenampakan mirip lalat rumah tapi bisa dibedakan dari karakter anatomi mereka. Tsetse melipat sayap sepenuhnya pada saat tidak terbang sehingga sayap yang satu tertumpuk di atas sayap lain menutupi perut mereka. Tsetse telah hidup selama 34 miliar tahun! Fosilnya yang tertua ditemukan di Colorado. Jadi Tsetse ini bisa disebut sebagai Rajanya bangsa lalat.
Trypanosomiasis Gambia adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Trypanosoma gambiense. Penyakit ini disebut juga West African Trypanosomiasis atau West African Sleeping Sickness.
Parasit ini pertama sekali ditemukan oleh Forde, pada tahun 1901, melalui pemeriksaan darah dari seorang pasien di Gambia, Afrika barat. Castellani (1903) juga menemukan parasit jenis yang sama pada pemeriksaan cairan serebrospinal pada pasien yang berbeda, dan oleh Dutton (1902) parasit tersebut diberi nama Trypanosoma gambiense.
Trypanosoma gambiense merupakan protozoa berflagella yang hidup dalam darah (Haemoflagellates) dan dikelompokkan dalam family Trypanosomidae. Lalat tsetse, jantan dan betina, bertindak sebagai penyebab pambawa parasit ini, terutama Glossina palpalis. Lalat ini banyak terdapat di sepanjang tepi-tepi sungai yang mengalir di bagian barat dan tengah Afrika. Lalat ini mempunyai jangkauan terbang sampai mencapai 3 mil.
Selain manusia, binatang peliharaan seperti babi, kambing dan sapi serta binatang liar dapat menjadi pengantar bagi parasit ini. Penyakit ini dapat ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia atau dari manusia ke manusia. Mobilitas penduduk dunia saat ini sangatlah memungkinkan untuk penyebaran parasit ini ke berbagai wilayah dunia.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu lalat tsetse ?
2.      Bagaimana taksonomi lalat tsetse ?
3.      Bagaimana morfologi lalat tsetse ?
4.      Bagaimana daur hidup lalat tsetse?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui definisi lalat tsetse.
2.      Untuk mengetahui taksonomi lalat tsetse.
3.      Untuk mengetahui morfologi lalat tsetse.
4.      Untuk mengetahui daur hidup lalat tsetse.
5.      Untuk mengetahui patologi dan gejala klinis lalat tsetse.
6.      Untuk mengetahui diagnosa lalat tsetse.
7.      Untuk mengetahui pencegahan penyakit yang ditularkan  lalat tsetse.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Definisi Lalat Tsetse
Lalat tsetse adalah lalat asal Afrika yang dikenal sebagai penyebar penyakit. Lalat ini membawa trypanosomes, yakni parasit hewan yang menyebabkan penyakit tidur pada manusia yang bisa berakibat fatal, serta ‘nagana’, penyakit mematikan pada ternak dan kuda.
Ada lebih dari 20 spesies lalat tsetse, beberapa darinya menyerang manusia. Lalat tsetse menyerupai lalat rumahan, tetapi mereka tumbuh lebih besar dan sayapnya terlipat rata diatas punggungnya sehingga tidak tampak menonjol seperti sayap lalat rumahan. Probosis panjang lalat tsetse bisa menembus tubuh inangnya. Kebanyakan lalat tsetse menghisap darah dari mamalia, tetapi beberapa jenis lainnya mengambil darah dari reptil dan burung. Saat lalat tsetse menghisap darah, mereka bisa menginfeksi inangnya. Seekor lalat tsetse mentransmisikan baik ‘nagana’ maupun penyakit tidur dengan menggigit manusia atau hewan yang terinfeksi, mengambil parasitnya, dan menginfeksi inang berikutnya.
Lalat tsetse biasanya tidak dapat menginfeksi manusia sampai parasit telah tinggal di tubuhnya selama beberapa hari dan telah melewati lambung ke kelenjar ludahnya. Kemudian lalat ini akan menularkan parasit tersebut kepada siapapun yang digigitnya. Parasit yang menginfeksi hewan berkembang di probosis atau di dalam perut lalat tsetse.
Lalat tsetse berkembang biak secara perlahan. Lalat betina hanya menghasilkan satu telur pada satu waktu. Larva yang menetas dari telur dipelihara selama masa pertumbuhan di dalam tubuh induknya. Ketika larva sudah tumbuh sempurna, larva itu akan disimpan di tanah. Kemudian larva akan menggali liang di dalam tanah sebelum berubah menjadi pupa.
Lalat tsetse menggigit manusia dan hewan pada siang hari. Mereka hidup di tepian danau dan sungai, sehingga membuat banyak tempat di Afrika tak layak huni. Di beberapa daerah, semprotan insektisida dan pembersihan vegetasi bisa mengontrol perkembangan populasi lalat tsetse. Program pengendalian lainnya menggunakan perangkap khusus. Obat untuk melindungi ternak dari ‘nagana’ juga digunakan. Sayangnya, kerusuhan politik di Afrika telah menghambat upaya pengendalian lalat tsetse.

B.     Taksonomi Lalat Tsetse
Lalat tsetse (Glossina)

Kerajaan:
Filum:
Upafilum:
Kelas:
Upakelas:
Infrakelas:
Superordo:
Ordo:
Upaordo:
Upaseksi:
Superfamili:
Famili:
Glossinidae
Theobald, 1903
Genus:
Glossina
Wiedemann, 1830




C.    Morfologi Lalat Tsetse
Secara umum Trypanosomidae mempunyai 4 bentuk/morfologi yang berbeda, yaitu:
1. Bentuk  Amastigot (Leismanial form)
Bentuk bulat atau lonjong, mempunyai satu inti dan satu kinetoplas serta tidak mempunyai flagela. Bersifat intraseluler. Besarnya 2-3 mikron.
2. Bentuk Promastigot (Leptomonasform)
Bentuk memanjang mempunyai satu inti ditengah dan satu flagella panjang yang keluar dari bagian anterior tubuh tempat terletaknya kinetoplas, belum mempunyai membran bergelombang, ukurannya 15 mikron.
3. Bentuk Epimastigot (Critidial form)
Bentuknya memanjang  dengan kinetoplas didepan inti yang letaknya di tengah mempunyai membrane bergelombang pendek yang menghubungkan flagela dengan tubuh parasit,ukurannya15-25 mikron.
4. Bentuk Tripomastigot (Trypanosomeform)
Bentuk memanjang dan melengkung langsing, inti ditengah kinetoplas dekat ujung posterior, flagela membentuk dua sampai empat kurva membrane bergelombang, ukurannya 20-30mikron

Pada penderita Trypanosomiasis gambia  (juga pada hewan  vertebrata yang terinfeksi umumnya ditemukan bentuk Trypomastigot. Trypomastigot ini memiliki bentuk mirip bulan sabit dengan ukuran panjang 15-35 mikrondan lebar1,5–3,5 mikron. Didalamnya terdapat organella antara lain :

1. Inti besar berbentuk   lonjong, terletak di tengah   dan berfungsi untuk menyediakan makanan. Disebut juga Troponukleus.
2. Kinetoplas, berbentuk bulat atau batang. Ukuran lebih kecil dari inti dan terletak didepan atau dibelakang inti. Kinetoplas terdiri dari 2 bagian yaitu benda parabasal dan blefaroplas.
3. Flagela merupakan cambuk halus yang keluar dari blefaroplas dan berfungsi untuk bergerak.
4. Undulating membrane (membran bergelombang), adalah selaput yang terjadi karena flagella melingkari badan parasit, sehingga terbentuk kurva-kurva. Terdapat 3-4 gelombang membrane.

Pada stadium akhir, didalam darah penderita, Trypomastigot memiliki beberapa bentuk yang berbeda, yaitu:
•   Bentuk panjang dan langsing, memiliki flagela
•   Bentuk pendek dan lebih gemuk, sebagian tidak berflagela
•   Bentuk intermediet dengan inti terkadang ditemukan di posterior.

Karena bentuknya yang bervariasi, trypomastigot ini disebut   Pleomorphic trypanosoma.
Dalam tahap perkembangannya didalam vektor, Trypanosoma   gambiense   tidak memiliki bentuk Amastigot dan Promastigot.
Sehingga dapat disimpulkan  ciri-ciri umumnya yaitu :
1.    Mempunyai sepasang sayap depan, dan satu pasang sayap belakang berubah menjadi alat keseimbangan yang disebut halter.
2.    Mengalami metamorfosis sempurna.
3.    Tipe mulut ada yang menusuk dan mengisap atau menjilat dan mengisap, membentuk alat mulut seperti belalai disebut probosis.
           
D.    Biologi Lalat
1.    Daur Hidup Lalat Tsetse
Trypanosoma gambiense mengalami perubahan bentuk morfologi selama siklus hidupnya. Pleomorfiktry panosoma, yang merupakan bentuk infektif, akan terhisap bersama darah, saat lalat tsetse menggigit penderita. Parasit akan masuk kedalam saluran pencernaan vector dan mengalami beberapa kali perubahan bentuk dan multiflikasi. Dalam waktu 3 minggu, parasit akan berubah menjadi bentuk Epimastigot. Bentuk Epimastigot juga mengalami perubahan menjadi bentuk metacyclic form dan memenuhi kelenjar air liur lalat. Metacyclicform merupakan bentuk infektif pada vektor dan siap untuk ditularkan ke korban selanjutnya.
Waktu yang diperlukan parasit ini untuk berkembang menjadi bentuk infektif dalam tubuh vector adalah 20-30 hari. Lalat yang mengandung bentuk infektif ini akan tetap infektif seumur hidupnya.
Lalat tsetse  menggigit  manusia/hewan vertebrata biasanya  pada siang hari. Penularan kepada penderita melalui gigitan vektor disebut anterior inoculation.Di dalam jaringan tempat gigitan tersebut, parasit mengalami proses multiflikasa secara belah pasang memanjang.  Proses multiflikasi, diawali dengan pembelahan blepharoblast dan parabasal body. Kemudian diikuti pembelahan inti, membran undulating dan terakhir pembelahan tubuh parasit. Flagella dan axonema tidak ikut membelah, tetapi bentuk baru berasal dari blepharoblast yang baru terbentuk tersebut.
Dalam perkembangan selanjutnya, baik hewan vertebrata maupun manusia, Trypanosoma gambiense hidup didalam darah, kelenjar getah bening, limpa dan bahkan sampai kesusunan saraf pusat.

2.    Makanan Lalat Tsetse
Lalat dewasa sangat aktif sepanjang hari terutama pada pagi hingga sore hari. Serangga ini sangat tertarik pada makanan manusia sehari-hari seperti gula, susu, makanan olahan, kotoran manusia dan hewan ,darah serta bangkai binatang Sehubungan dengan bentuk mulutnya, lalat hanya makan dalam bentuk cairan, makanan yang kering dibasahi oleh lidahnya terlebih dahulu baru dihisap air merupakan hal yang penting dalam hidupnya, tanpa air lalat hanya hidup 48 jam saja. Lalat makan paling sedikit 2-3 kali sehari.
E.     Patologi dan Gejala Klinis
Gejala dan tanda penyakit ini dapat bervariasi dan umumnya dibagi atas 3 fase :
1. Fase awal (Initial stage)
Ditandai dengan timbulnya reaksi inflamasi lokal pada daerah gigitan lalat tsetse. Reaksi inflamasi dapat berkembang menjadi bentuk ulkus atau parut (primarychancre).   Reaksi inflamasi ini biasanya mereda dalam waktu 1-2 minggu
2. Fase penyebaran (Haemoflagellates stage)
Setelah fase awal mereda,parasit masuk kedalam darah dan kelenjar getah bening (parasitemia). Gejala klinis yang sering muncul adalah demam yang tidak teratur, sakit kepala, nyeri pada otot dan persendian. Tanda klinis yang sering muncul antara lain: Lymphadenopati, lymphadenitis yang terjadi pada bagian posterior kelenj arcervical (Winterbotton’ssign),  papula dan rash pada kulit.
Pada fase ini juga terjadi proses infiltrasi perivascular oleh sel-sel endotel, sel limfoid dan sel plasma, hingga dapat menyebabkan terjadinya pelunakan jaringan iskemik dan perdarahan di bawah kulit (ptechialhaemorhagic). Parasit emia yang berat (toksemia) dapat mengakibatkan   kematian pada penderita.
3. Fase kronik(Meningoencephalitic stage)
Pada fase ini terjadi invasi parasit ke dalam susunan saraf pusat dan mengakibatkan terjadinya meningoenchepalitis difusa dan meningomyelitis. Demam dan sakit kepala menjadi lebih nyata. Terjadi gangguan pola tidur, insomnia pada malam hari dan mengantuk pada siang hari. Gangguan ekstra piramidal dan keseimbangan otak kecil menjadi nyata. Pada kondisi yang lain  dijumpai juga   perubahan mental yang sangat nyata. Gangguan gizi umumnya terjadi dan diikuti dengan infeksi sekunder oleh karena immunosupresi. Jumlah lekosit normal atau sedikit meningkat. Bila tercapai stadium tidur terakhir, penderita sukar dibangunkan. Kematian dapat terjadi oleh karena penyakit itu sendiri atau diperberat oleh penyakit lain seperti malaria, disentri, pneumonia atau juga kelemahan tubuh.

F.     Dianogsa
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menegakkan diagnosa adalah:
1. Mengetahui riwayat tempat tinggal dan riwayat bepergian kedaerah endemik.
2. Menemukan tanda dan gejala klinis
•   Demam yang bersifat periodik
    Dijumpai reaksi inflamasi local (primarychancre) pada tempat inokulasi, rash pada  kulit,  lympadenopati  pada  bagian  cervical  posterior (Winterbotton’s sign)
    Gangguan neurologis, terutama pola tidur (diurnalsomnolence, nocturnal insomnia), gangguan status mental, gangguan keseimbangan otak kecil, gangguan ekstrapiramidal.
3. Menemukan parasit pada pemeriksaan :
•   Darah tepi dengan pewarnaan.
•   Biopsi aspirasi pada ‘primary chancre’
•   Cairan cerebrospinal
4. Pemeriksaan serologi
•   ELISA
•   Immunofluorescent indirek

Prognosa menjadi baik bila segera dilakukan pengobatan sebelum mengenai susunan saraf pusat.Bila parasit sampai kedalam susunansarafpusat, penyakitdapat berkembang dan menjadi kronis atau bahkan mematikan.


G.    Pencegahan
Pencegahan penyakit ini meliputi :
1. mengurangi sumber infeksi
2. melindungi manusia terhadap infeksi
3. mengendalikan vektor
Pengurangan sumber infeksi dapat dilakukan dengan cara melakukan pengobatan secara tuntas pada penderita, bahkan memusnahkan hewan vertebrata yang terinfeksi .Kontak terhadap vector dapat dihindari dengan menjauhi habitat vektor, memakai pelindung kepala dan tubuh, menggunakan kelambu serta memakai reppellent. Dan oleh karena bahayanya   penyakit ini, beberapa ahli menyarankan untuk dilakukan skriningserologi pada semuaorang yang beresiko dan yang berasal/keluar dari daerah endemik.
Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan mengurangi tempat hidup dan perindukan vektor. Pengendalianjuga dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida untuk  mengurangi jumlah lalat dewasa. Profil aksisse cara umum tidaklah direkomendasikan oleh para ahli dan sampai saat ini belum ditemukan vaksinbagi penyakitini.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Trypanosomiasis gambia adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Trypanosoma gambiense. Lalat tsetse bertindak sebagai vektor pembawa parasit dan menularkannya dari manusia-manusia atau hewan vertebrata-manusia. Parasit ini bersifat ekstra selluler (hidup diluar sel penderita/host). Gejala dan tanda klinis yang muncul antara lain: reaksi inflamasi local (prymarychancre), Winterbotton’ssign, demam, nyeri otot dan persendian, rash pada kulit, bahkan gejala-gejala   yang timbul akibat gangguan   sistem susunan saraf pusat. Prognosa penyakit ini umumnya baik, terutama bila cepat ditangani dan juga belum menyebar ke dalam susunan saraf pusat. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menghindari vektor (cegah kontak vektor) dan pengendalian vektor.



DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 1992. Pedoman Tehnis Pengendalian Lalat. Dit. Jen. PPM dan PLP, Depkes RI. Jakarta
HAKLI. 2009. Pengendalian Lalat. http://www.hakli.org. Diakses tanggal 30 Maret 2011
Kartikasari. 2008. Dampak Vektor Lalat Terhadap Kesehatan. Universitas Sumatera Utara. jtptunimus-gdl-s1-2008-kartikasar-521-2-bab1 Diakses tanggal 1 April 2011
Sitanggang, Totianto. 2001. Skripsi: Studi Potensi Lalat Sebagai Vektor Mekanik Cacing Parasit Melalui Pemeriksaan Eksternal. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. 42 Halaman (Dipublikasikan)
Santi, Devi Nuraini. 2001. Manajemen Pengendalian Lalat. Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara. 5 Halaman (Dipublikasikan)
Nurmaini. 2001. Identifikasi Vektor dan Binatang Pengganggu serta Pengendalian Anopheles Aconitus secara Sederhana. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara. http://www.solex-un.net. diakses pada tanggal 30 Maret 2011.

Posted by G1B008040 - April 14, 2011 - Posted in: Uncategorized

0 komentar:

Posting Komentar