MAKALAH PENGENDALIAN VEKTOR
DAN BINATANG PENGGANGGU
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
REGULER
1 SEMESTER 3
1. AINUR ROHMAH
2. AMIR MAULANA
3. ELSE NINA MARTINI
4. IKKE ASMAWATI
5. TUTUT
WULANDARI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
TANJUNG KARANG
PRODI DIII
KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada
kami sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas penulisan Makalah “Pengendalian Vektor dan Binatang
Pengganggu ( Lalat Tsetse )” yang alhamdulillah selesai tepat pada waktunya
dengan semaksimal mungkin.
Kami
menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Kami
mengucapakn banyak terima kasih kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita, Amin.
Bandar
Lampung, September 2014
Tim
Penyusun
Kelompok
3
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL................................................................................ i
KATA
PENGANTAR............................................................................. ii
DAFTAR
ISI............................................................................................ iii
BAB I
PENDAHULUAN
....................................................................... 1
A. Latar Belakang
................................................................................
1
B. Rumusan Masalah
........................................................................... 2
C.
Tujuan
Masalah.................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
........................................................... 3
1. Definisi lalat
tsetse............................................................. 3
2. Taksonomi ......................................................................... 4
3. Morfologi
........................................................................... 5
4. Daur
Hidup ....................................................................... 6
5. Patologi
dan Gejala klinis .................................................. 7
6. Diagnosa
............................................................................ 8
7. Pencegahan
........................................................................ 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tsetse adalah lalat berukuran cukup besar dan berasal dari
Afrika yang hidup dengan cara mengisap darah dari binatang bertulang belakang
(vertebrata). Tsetse meliputi seluruh lalat dari genus Glossina dari famili Glossinidae.
Tsetse telah lama diteliti oleh ilmuwan karena mereka merupakan parantara
biologis dari trypanosomi Afrika yang mengakibatkan penyakit yang mematikan
termasuk sleeping sickness pada manusia dan nagana pada ternak.
Tsetse berpenampakan mirip lalat rumah tapi bisa dibedakan
dari karakter anatomi mereka. Tsetse melipat sayap sepenuhnya pada saat tidak
terbang sehingga sayap yang satu tertumpuk di atas sayap lain menutupi perut
mereka. Tsetse telah hidup selama 34 miliar tahun! Fosilnya yang tertua
ditemukan di Colorado. Jadi Tsetse ini bisa disebut sebagai Rajanya bangsa
lalat.
Trypanosomiasis Gambia adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh Trypanosoma gambiense. Penyakit ini disebut juga West African
Trypanosomiasis atau West African Sleeping Sickness.
Parasit ini pertama sekali ditemukan oleh Forde, pada tahun
1901, melalui pemeriksaan darah dari seorang pasien di Gambia, Afrika barat.
Castellani (1903) juga menemukan parasit jenis yang sama pada pemeriksaan
cairan serebrospinal pada pasien yang berbeda, dan oleh Dutton (1902) parasit
tersebut diberi nama Trypanosoma gambiense.
Trypanosoma gambiense merupakan protozoa berflagella yang
hidup dalam darah (Haemoflagellates) dan dikelompokkan dalam family
Trypanosomidae. Lalat tsetse, jantan dan betina, bertindak sebagai penyebab
pambawa parasit ini, terutama Glossina palpalis. Lalat ini banyak terdapat di
sepanjang tepi-tepi sungai yang mengalir di bagian barat dan tengah Afrika.
Lalat ini mempunyai jangkauan terbang sampai mencapai 3 mil.
Selain manusia, binatang peliharaan seperti babi, kambing
dan sapi serta binatang liar dapat menjadi pengantar bagi parasit ini. Penyakit
ini dapat ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia atau dari manusia ke
manusia. Mobilitas penduduk dunia saat ini sangatlah memungkinkan untuk
penyebaran parasit ini ke berbagai wilayah dunia.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
itu lalat tsetse ?
2. Bagaimana taksonomi lalat tsetse
?
3. Bagaimana morfologi lalat tsetse ?
4. Bagaimana daur hidup lalat tsetse?
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui definisi lalat tsetse.
2. Untuk
mengetahui taksonomi lalat tsetse.
3. Untuk
mengetahui morfologi lalat tsetse.
4. Untuk
mengetahui daur hidup lalat tsetse.
5. Untuk
mengetahui patologi dan gejala klinis lalat
tsetse.
6. Untuk
mengetahui diagnosa lalat tsetse.
7. Untuk
mengetahui pencegahan penyakit yang
ditularkan lalat tsetse.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Definisi Lalat Tsetse
Lalat tsetse adalah lalat asal Afrika yang dikenal
sebagai penyebar penyakit. Lalat ini membawa trypanosomes, yakni
parasit hewan yang menyebabkan penyakit tidur pada manusia yang bisa berakibat
fatal, serta ‘nagana’, penyakit mematikan pada ternak dan kuda.
Ada lebih dari 20 spesies lalat tsetse, beberapa
darinya menyerang manusia. Lalat tsetse menyerupai lalat rumahan, tetapi mereka
tumbuh lebih besar dan sayapnya terlipat rata diatas punggungnya sehingga tidak
tampak menonjol seperti sayap lalat rumahan. Probosis panjang lalat tsetse bisa
menembus tubuh inangnya. Kebanyakan lalat tsetse menghisap darah dari mamalia,
tetapi beberapa jenis lainnya mengambil darah dari reptil dan burung. Saat
lalat tsetse menghisap darah, mereka bisa menginfeksi inangnya. Seekor lalat
tsetse mentransmisikan baik ‘nagana’ maupun penyakit tidur dengan menggigit
manusia atau hewan yang terinfeksi, mengambil parasitnya, dan menginfeksi inang
berikutnya.
Lalat tsetse biasanya tidak dapat menginfeksi manusia
sampai parasit telah tinggal di tubuhnya selama beberapa hari dan telah
melewati lambung ke kelenjar ludahnya. Kemudian lalat ini akan menularkan
parasit tersebut kepada siapapun yang digigitnya. Parasit yang menginfeksi
hewan berkembang di probosis atau di dalam perut lalat tsetse.
Lalat tsetse berkembang biak secara perlahan. Lalat
betina hanya menghasilkan satu telur pada satu waktu. Larva yang menetas dari telur
dipelihara selama masa pertumbuhan di dalam tubuh induknya. Ketika larva sudah
tumbuh sempurna, larva itu akan disimpan di tanah. Kemudian larva akan menggali
liang di dalam tanah sebelum berubah menjadi pupa.
Lalat tsetse menggigit manusia dan hewan pada siang
hari. Mereka hidup di tepian danau dan sungai, sehingga membuat banyak tempat
di Afrika tak layak huni. Di beberapa daerah, semprotan insektisida dan
pembersihan vegetasi bisa mengontrol perkembangan populasi lalat tsetse.
Program pengendalian lainnya menggunakan perangkap khusus. Obat untuk
melindungi ternak dari ‘nagana’ juga digunakan. Sayangnya, kerusuhan politik di
Afrika telah menghambat upaya pengendalian lalat tsetse.
B. Taksonomi Lalat
Tsetse
|
C. Morfologi
Lalat Tsetse
Secara umum Trypanosomidae mempunyai 4 bentuk/morfologi yang berbeda, yaitu:
1. Bentuk Amastigot (Leismanial form)
Bentuk bulat atau lonjong, mempunyai satu inti dan satu kinetoplas serta
tidak mempunyai flagela. Bersifat intraseluler. Besarnya 2-3 mikron.
2. Bentuk Promastigot (Leptomonasform)
Bentuk memanjang mempunyai satu inti
ditengah dan satu flagella panjang
yang keluar dari bagian anterior tubuh tempat terletaknya kinetoplas, belum
mempunyai membran bergelombang, ukurannya
15 mikron.
3. Bentuk Epimastigot
(Critidial form)
Bentuknya memanjang dengan kinetoplas didepan inti yang letaknya di
tengah mempunyai membrane bergelombang pendek yang menghubungkan flagela dengan tubuh parasit,ukurannya15-25
mikron.
4. Bentuk Tripomastigot (Trypanosomeform)
Bentuk memanjang dan melengkung langsing, inti ditengah kinetoplas dekat ujung
posterior, flagela membentuk
dua sampai empat kurva membrane bergelombang, ukurannya 20-30mikron
Pada penderita Trypanosomiasis gambia
(juga pada hewan vertebrata yang terinfeksi umumnya ditemukan
bentuk Trypomastigot. Trypomastigot ini memiliki bentuk mirip bulan sabit dengan ukuran
panjang 15-35 mikrondan lebar1,5–3,5
mikron. Didalamnya terdapat organella antara lain :
1. Inti besar berbentuk lonjong, terletak di tengah dan
berfungsi untuk menyediakan makanan. Disebut juga Troponukleus.
2. Kinetoplas, berbentuk bulat atau batang. Ukuran lebih kecil dari inti dan
terletak didepan atau dibelakang inti. Kinetoplas terdiri dari 2 bagian yaitu benda parabasal dan blefaroplas.
3. Flagela merupakan cambuk halus yang keluar dari blefaroplas dan berfungsi untuk bergerak.
4. Undulating
membrane (membran bergelombang), adalah
selaput yang terjadi karena flagella melingkari badan parasit, sehingga terbentuk kurva-kurva. Terdapat 3-4 gelombang membrane.
Pada stadium akhir, didalam darah penderita, Trypomastigot
memiliki beberapa bentuk yang
berbeda, yaitu:
• Bentuk
panjang dan langsing, memiliki
flagela
• Bentuk pendek dan
lebih gemuk, sebagian tidak
berflagela
• Bentuk intermediet
dengan inti terkadang ditemukan
di posterior.
Karena bentuknya yang bervariasi, trypomastigot ini disebut
Pleomorphic trypanosoma.
Dalam tahap perkembangannya didalam vektor, Trypanosoma
gambiense tidak memiliki bentuk Amastigot dan
Promastigot.
Sehingga dapat disimpulkan ciri-ciri umumnya yaitu :
1. Mempunyai sepasang sayap depan, dan satu pasang sayap
belakang berubah menjadi alat keseimbangan yang disebut halter.
2. Mengalami metamorfosis sempurna.
3. Tipe mulut ada yang menusuk dan mengisap atau menjilat dan mengisap,
membentuk alat mulut seperti belalai disebut probosis.
D. Biologi
Lalat
1.
Daur
Hidup Lalat Tsetse
Trypanosoma gambiense mengalami
perubahan bentuk morfologi selama siklus hidupnya. Pleomorfiktry panosoma, yang merupakan bentuk infektif, akan terhisap bersama darah, saat lalat tsetse menggigit penderita. Parasit akan masuk kedalam saluran pencernaan vector dan mengalami beberapa kali perubahan bentuk dan
multiflikasi. Dalam waktu 3 minggu, parasit akan
berubah menjadi
bentuk Epimastigot. Bentuk Epimastigot juga mengalami perubahan
menjadi bentuk metacyclic
form dan memenuhi kelenjar air liur lalat. Metacyclicform merupakan
bentuk infektif pada vektor dan siap untuk ditularkan ke korban selanjutnya.
Waktu yang diperlukan parasit ini untuk berkembang menjadi bentuk infektif dalam tubuh vector adalah 20-30 hari. Lalat yang mengandung bentuk infektif ini akan
tetap infektif seumur hidupnya.
Lalat tsetse
menggigit manusia/hewan vertebrata biasanya pada siang hari.
Penularan kepada penderita melalui
gigitan vektor
disebut anterior inoculation.Di dalam jaringan
tempat gigitan tersebut, parasit mengalami proses
multiflikasa secara belah pasang
memanjang. Proses multiflikasi, diawali
dengan pembelahan blepharoblast dan parabasal body.
Kemudian diikuti pembelahan inti, membran undulating dan terakhir pembelahan tubuh parasit. Flagella dan axonema tidak ikut membelah, tetapi bentuk baru
berasal dari blepharoblast yang baru terbentuk
tersebut.
Dalam perkembangan selanjutnya, baik hewan vertebrata maupun manusia,
Trypanosoma gambiense hidup didalam darah, kelenjar getah bening, limpa dan
bahkan sampai kesusunan saraf pusat.
2.
Makanan
Lalat Tsetse
Lalat
dewasa sangat aktif sepanjang hari terutama pada pagi hingga sore hari.
Serangga ini sangat tertarik pada makanan manusia sehari-hari seperti gula,
susu, makanan olahan, kotoran manusia dan hewan ,darah serta bangkai binatang
Sehubungan dengan bentuk mulutnya, lalat hanya makan dalam bentuk cairan,
makanan yang kering dibasahi oleh lidahnya terlebih dahulu baru dihisap air
merupakan hal yang penting dalam hidupnya, tanpa air lalat hanya hidup 48 jam
saja. Lalat makan paling sedikit 2-3 kali sehari.
E.
Patologi dan Gejala Klinis
Gejala dan tanda penyakit ini dapat bervariasi dan umumnya dibagi atas 3
fase :
1. Fase awal (Initial stage)
Ditandai dengan timbulnya reaksi inflamasi lokal
pada daerah gigitan lalat tsetse. Reaksi inflamasi dapat berkembang menjadi bentuk ulkus atau parut (primarychancre).
Reaksi inflamasi ini biasanya mereda dalam waktu 1-2 minggu
2. Fase penyebaran (Haemoflagellates stage)
Setelah fase awal mereda,parasit masuk kedalam
darah dan kelenjar getah
bening (parasitemia). Gejala klinis yang sering muncul adalah demam yang tidak teratur, sakit kepala, nyeri pada
otot dan persendian. Tanda klinis yang
sering muncul antara lain: Lymphadenopati, lymphadenitis yang
terjadi pada bagian posterior kelenj arcervical (Winterbotton’ssign), papula dan rash
pada kulit.
Pada fase ini
juga
terjadi proses infiltrasi perivascular oleh sel-sel endotel, sel limfoid dan sel
plasma, hingga dapat menyebabkan terjadinya
pelunakan jaringan iskemik dan perdarahan di bawah kulit (ptechialhaemorhagic). Parasit emia yang berat (toksemia) dapat mengakibatkan
kematian pada penderita.
3. Fase kronik(Meningoencephalitic stage)
Pada fase ini terjadi invasi
parasit ke dalam susunan saraf pusat
dan mengakibatkan terjadinya meningoenchepalitis difusa
dan meningomyelitis. Demam dan sakit kepala menjadi lebih nyata. Terjadi gangguan pola tidur, insomnia
pada
malam hari dan mengantuk
pada siang hari. Gangguan ekstra piramidal dan keseimbangan otak kecil menjadi nyata. Pada kondisi
yang lain
dijumpai juga perubahan mental yang sangat nyata. Gangguan gizi umumnya terjadi dan diikuti dengan infeksi sekunder oleh karena
immunosupresi. Jumlah lekosit normal atau sedikit
meningkat. Bila tercapai stadium tidur terakhir, penderita sukar
dibangunkan. Kematian dapat terjadi oleh
karena penyakit
itu sendiri atau diperberat
oleh
penyakit lain seperti malaria,
disentri, pneumonia
atau juga kelemahan tubuh.
F.
Dianogsa
Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menegakkan
diagnosa adalah:
1. Mengetahui riwayat tempat tinggal
dan riwayat bepergian
kedaerah endemik.
2. Menemukan tanda dan gejala klinis
• Demam yang
bersifat periodik
• Dijumpai reaksi inflamasi local (primarychancre) pada tempat inokulasi,
rash pada kulit, lympadenopati pada
bagian cervical posterior (Winterbotton’s sign)
• Gangguan neurologis, terutama pola tidur (diurnalsomnolence, nocturnal insomnia), gangguan status mental,
gangguan keseimbangan otak kecil,
gangguan ekstrapiramidal.
3. Menemukan parasit pada pemeriksaan :
• Darah tepi dengan pewarnaan.
• Biopsi aspirasi pada ‘primary chancre’
• Cairan
cerebrospinal
4. Pemeriksaan
serologi
• ELISA
• Immunofluorescent
indirek
Prognosa menjadi baik bila segera dilakukan pengobatan
sebelum mengenai susunan
saraf pusat.Bila parasit sampai kedalam susunansarafpusat, penyakitdapat berkembang dan
menjadi kronis atau bahkan mematikan.
G.
Pencegahan
Pencegahan penyakit
ini meliputi :
1. mengurangi sumber
infeksi
2. melindungi
manusia terhadap
infeksi
3. mengendalikan vektor
Pengurangan sumber infeksi dapat dilakukan dengan cara melakukan pengobatan secara tuntas pada penderita, bahkan memusnahkan
hewan vertebrata yang terinfeksi .Kontak terhadap vector dapat dihindari dengan menjauhi
habitat vektor, memakai
pelindung kepala dan tubuh, menggunakan kelambu serta memakai reppellent.
Dan oleh karena bahayanya
penyakit ini, beberapa ahli menyarankan untuk dilakukan skriningserologi pada semuaorang yang beresiko dan yang berasal/keluar dari
daerah endemik.
Pengendalian vektor
dapat dilakukan dengan mengurangi tempat hidup dan
perindukan vektor. Pengendalianjuga
dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida untuk mengurangi
jumlah lalat dewasa. Profil aksisse cara umum tidaklah direkomendasikan oleh para ahli dan sampai saat
ini belum ditemukan vaksinbagi
penyakitini.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Trypanosomiasis gambia
adalah suatu penyakit
infeksi
yang disebabkan oleh Trypanosoma gambiense. Lalat tsetse bertindak sebagai
vektor pembawa parasit dan
menularkannya dari manusia-manusia atau
hewan vertebrata-manusia. Parasit ini bersifat ekstra selluler (hidup diluar sel
penderita/host). Gejala dan tanda
klinis yang muncul antara lain: reaksi inflamasi local (prymarychancre), Winterbotton’ssign, demam, nyeri otot dan persendian, rash pada kulit, bahkan gejala-gejala
yang timbul akibat gangguan sistem
susunan saraf pusat. Prognosa penyakit
ini umumnya baik, terutama bila cepat ditangani dan juga belum menyebar ke dalam
susunan saraf pusat. Pencegahan
dapat dilakukan dengan cara menghindari
vektor (cegah kontak vektor) dan pengendalian
vektor.
DAFTAR
PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. 1992. Pedoman Tehnis Pengendalian Lalat. Dit. Jen. PPM dan PLP, Depkes RI. Jakarta
HAKLI. 2009. Pengendalian Lalat.
http://www.hakli.org. Diakses tanggal 30 Maret 2011
Kartikasari. 2008. Dampak Vektor Lalat Terhadap Kesehatan. Universitas Sumatera Utara.
jtptunimus-gdl-s1-2008-kartikasar-521-2-bab1 Diakses tanggal 1 April 2011
Sitanggang, Totianto. 2001. Skripsi: Studi
Potensi Lalat Sebagai Vektor Mekanik Cacing Parasit Melalui Pemeriksaan
Eksternal. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. 42 Halaman
(Dipublikasikan)
Santi, Devi Nuraini. 2001. Manajemen Pengendalian Lalat. Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara. 5 Halaman
(Dipublikasikan)
Nurmaini. 2001. Identifikasi Vektor dan
Binatang Pengganggu serta Pengendalian Anopheles Aconitus secara Sederhana. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas
Sumatera Utara. http://www.solex-un.net. diakses pada tanggal 30 Maret 2011.


0 komentar:
Posting Komentar